Download

Jumat, 11 Januari 2013

Argumentasi Keberadaan TUHAN

Manusia membagi pandangan dunia menjadi dua; pandangan dunia illahi dan pandangan dunia meterialis. Pandangan dunia yang menyertakan kesadaran  bahwa keberadaan alam ini memiliki tujuan, bersandar pada wujud dan memiliki perasaan, dan berdasarkan pada sebuh sistem, rancangan, serta perhitungan yang pasti, disebut dengan pandangan dunia illahi. Sementara, pandangan semesta yang mengedapankan asumsi bahwa jagat alam ini tidak didasari oleh rancangan sebelumnya, tidak meiliki rancangan perasaan, tanpa tujuan dan tanpa perhitungan, disebut pandangan dunia materi. 

Dari kedua pandangan tersebut, terlihat kutub perbedaan yang sangat jelas. Singkatnya pandangan illahi mengikut sertakan peranan tuhan sebagai pencipta alam semesta sedang pandangan materi dengan tegas menafikan peranan tuhan. Dari sinilah kemudian argumentasi-argumentasi pengungkapan kebaradaan Tuhan itu dijelaskan secara logis, baik melalai pendekatan logika ketuhanan, menyaksikan menifestasi tuhan, yakni semesta alam, atau melalui nash-nash yang di turunkan kepada para Nabi,  sehingga agrumentasi-argumnetasi  yang di tawarkan oleh kaum Zindik (Atheis), yang secara total menganut paham matrealisme dapat kita luruskan ada khithah yang sebenarnya, yakni ada kekuatan dasyat yang mencipta, mengatur semesta raya ini, yaitu Allah Swt. 

Eksitensi Tuhan, melalui Pemahaman Terhadap Hakikat Wujud Tuhan.

Keyakinan dan kepercayaan akan keberadaan Tuhan, merupakan pondasi dan asas yang paling penting bagi seluruh agama. Aturan keagamaan inilah yang melandasi segala aktifitas dan perilaku manusia yang beragama pada seluruh dimensi kehidupannya, inilah sebuah landasan  kepercayaan akan eksistensi Tuhan. Semakin tinggi kepercayaan kepada Tuhan, semakin intens pula hubungan ia kepada-Nya, dan semakin sempurna pengamalan atas ajaran-ajaran agama. 

Pengetahuan yang pasti akan wujud Tuhan, meniscayakan pengetahuan sempurna akan sifat-sifat-Nya. Salah satu sifat Tuhan adalah Maha Mengetahui. Jadi, apabila manusia meyakini akan wujud Tuhan -yang merupakan sebab hadirnya segala eksistensi yang bergradasi dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. Maka hal itulah yang menjadi konsekuensinya. kesadara bahwa yang paling mengetahui akan keberadaan dirinya, sifat-sifatnya dan kebutuhan substansialnya adalah Tuhan Sang Pencipta (al-Khâliq), akan muncul dengan sendirinya sebagai bias dari pengetahuannya akan wujud tuhan.

Amatlah pantas jika agama dijadikan  pedoman hakiki bagi manusia dalam meraih kesempurnaan pengetahuan dan penghambaan kepada-Nya, -lewat perintah dan larangan-Nya- akan sangat bermanfaat bagi manusia jika sebelumnya telah mengkaji dan membuktikan eksistensi Tuhan secara rasional. Kesadaran rasional adalah kesadaran yang paling tinggi dan hakiki bagi manusia yang tidak bisa dilepaskan dari nya. Jadi, manusia yang paling rasional dan berakal adalah manusia yang paling yakin akan keberadaan Tuhan. 

Kejelasan Wujud Tuhan

Dalam pembuktian wujud Tuhan, sebagian menyatakan bahwa wujud Tuhan adalah sesuatu yang badihi (jelas), dan bahkan lebih terang dari segala sesuatu yang lain. Kebaradaanyalah yang menjelaskan kebaradaan yang lain. Oleh karena itu, penetapan wujud Tuhan sama sekali tidak memerlukan penjelas dan argumen apapun. Dia mendahului segala sesuatu. Dia ada sebelum ada segala sesuatu. Dialah yang mengadakan segala sesutu. Segala sesuatu bergantung mutlak kepada-Nya. Ketiadaan selain-Nya tidak melazimkan ketiadaan-Nya. Tetapi ketiadaan-Nya, meniscayakan ketiadaan segala sesuatu. Dialah yang menjelaskan segala sesuatu. Bukan segala sesuatu yang menerangkan Dia. Segala sesuatu dikenal karena-Nya. Bukan karena selain-Nya Dia diketahui.
 


Membangun Argumentasi Keberadaan Allah Melalui Keteraturan Alam.

Persoalan pertama yang menjadi pokok kajian para filosof dan para ilmuan terutama dari kalangan muslim adalah konsepsi tentang tuhan. Bagaimana menjelaskan tuhan berdasarkan bukti rasional. 

Sebuah dalil logika menyatakan bahwa setiap wujud pasti ada yang membuatnya menjadi wujud  Jika wujud itu  terjadi melalui perbuatan maka pasti ada yang melakukan perbuatan itu, jika wujud  melalui gerakan maka pasti ada penggeraknya. Karena wujud itu akibat maka harus ada sebabnya. Rangkaian sebab-akibat yang menjelaskan rangkai wujud  memeng bisa bertingkat-tingkat, seakan tanpa akhir, namun semua akan berakhir ketika orang dapat membuktikan adanya pelaku pertama, atau sebeb pertama. Wujud pertama itu tidak lain adalah kebenaran pertama, yang oleh sebagian ilmuan komteporer disebut Prima kausa. Yaitu tuhan sang pencipta alam semesta.

Selain Tuhan itu Alam

Berbicara mengenai wujud, tidak lepas juga dengan alam. Alam adalah wujud selain tuhan. Karena Allah sang pencipta maka apapun selain dia adalah ciptaan dan itulah alam[1]. Meskipun kalangan mutakalimin sepakat bahwa alam itu makhuk yang diciptakan Tuhan, namun timbul juga perbedaan pandangan keadaanya, kekal (Qadim), ataukah baru (hadits). Untuk masuk kedalam ranah itu penulis belum bisa memaparkannya secara jelas, karna perlu ada penelitian dan kajian yang lebih lanjut. Namun yang jelas secara nyata bahwa selain tuhan itu makhuk yang bisa juga disebut alam.

Berkenaan tentang ini, Al Kindi mencoba mengajukan beberapa bukti tentang keberadaan tuhan. Yang oleh penulis hanya diungkapkan satu buti saja. Bahwa alam semesta itu terbatas dari sudut jasad, waktu dan gerak. Karna dari keterbatsan itulah maka alam membutuhakan pencipta atau haruslah diciptakan. Sebab menurut hukum kausalitas, segala sesuatu yang diciptakan dalam waktu haruslah memiliki pencipta.tuhanlah pencipta alam sesmeta. 

 Berbeda dengan pandangan Ibnu Sina untuk menujukan keberadaan tuhan itu dibangun berdasarkan konsepnya tentang wujud. Menurutnya, keberadaan tuhan dapat diketahui wujud-Nya bukan melalui ciptaanya ataupun perbuatan-Nya.  

Keteraturan Alam Semesta    
      
Ringkasnya, untuk memahami keteraturan alam semesta diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang dalam dan luas. Dalam presektif al-Qur’an, dikatakan bahwa alam semesta dirancang, diatur, dan dijaga oleh Allah. Al Quran menjelaskan bagaimana bumi dan langit beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya dijaga dengan kuasa-Nya yang agung (QS. Faathir, ayat 41). Ayat ini memberikan penegasan terhadap adanya prinsip keteraturan alam semesta. Bahkan dalam ayat yang lain, al-Qur’an secara tegas menolak kepercayaan kaum materialisme, yang menyatakan bahwa alam semesta adalah sekumpulan materi tak beraturan (QS. al-Mu'minuun, ayat 71).

Sebagai bukti nyata bahwa alam semesta memiliki keteraturan, panca indera manusia dapat secara langsung menyaksikan terhadap tata surya. Tata surya adalah salah satu contoh keselarasan indah yang paling mengagumkan yang dapat disaksikan. Terdapat sembilan planet dengan 54 satelit yang diketahui dan benda-benda kecil yang tidak diketahui Secara lebih terinci, Harun Yahya mengungkapkan; Pada struktur tata surya, manusia dapat menemukan contoh lain dari keindahan keseimbangan. Keseimbangan antara gaya “sentrifugal planet” yang dilawan oleh gaya gravitasi dari benda primer planet tersebut. Dalam astronomi, benda primer adalah benda yang dikitari oleh benda lainnya.  

Benda primer bumi adalah matahari, benda primer bulan adalah bumi. Tanpa keseimbangan ini, segala sesuatu yang ada di tata surya akan terlontar jauh ke luar angkasa. Keseimbangan di antara kedua gaya ini menghasilkan jalur (orbit) tempat planet dan benda angkasa lain mengitari benda primernya. Jika sebuah benda langit bergerak terlalu lambat, dia akan tertarik kepada benda primernya; jika bergerak terlalu cepat, benda primernya tidak mampu menahannya, dan akan terlepas jauh ke angkasa.  

Sebaliknya, setiap benda langit bergerak pada kecepatan yang begitu tepat untuk terus dapat berputar pada orbitnya. Lebih jauh, keseimbangan ini tentu berbeda untuk setiap benda angkasa, sebab jarak antara planet dan matahari berbeda-beda. Demikian juga massa benda-benda langit tersebut. Jadi, planet-planet harus memiliki kecepatan yang berbeda untuk menjamin tidak menabrak matahari atau menyebabkannya terlempar menjauh ke angkasa.  

Pertanyaanya, sistem tatasurya yang begitu rapi ini mungkinkah berjalan dengan sendirinya tanpa adanya yang mengatur?
****



















[1] DR. Amiullah el-Hady, Membela Tuhan, Filsafat Ketuhanan Ibn Rusyd. Hal. 82

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More